Foya-foya Era Baru: Saat Flexing Digeser Slow Living, Gen Z & Milenial Kini Pilih Hidup Lebih Pelan

Foya-foya Era Baru: Saat Flexing Digeser Slow Living, Gen Z & Milenial Kini Pilih Hidup Lebih Pelan

Pernah nggak sih ngerasa capek liat feed Instagram orang-orang pada liburan ke Eropa, beli mobil baru, atau pamer jam tangan mewah? Dulu kita mungkin iri, bahkan berusaha ngikutin. Tapi sekarang? Rasanya justru exhausting. Banyak dari kita mulai bertanya: ini semua buat apa sih? Dan di situlah perubahan besar terjadi.

Budaya flexing yang dulu jadi raja—di mana status sosial diukur dari seberapa mewah gaya hidup yang dipamerkan—perlahan mulai ditinggalkan. Generasi Z dan milenial kini memilih jalan yang lebih pelan. Lebih tenang. Lebih… sadar. Ini bukan cuma tren sesaat. Ini semacam rebellion diam-diam terhadap hustle culture dan tekanan sosial yang selama ini membelenggu.


Dari YOLO ke YONO: Pergeseran yang Nggak Terhindarkan

Ingat istilah YOLO (You Only Live Once) yang dulu jadi mantra anak muda? Itu semacam lisensi buat foya-foya, hidup instan, dan mengejar kepuasan sesaat tanpa mikir panjang . Tapi, seiring waktu, banyak yang sadar kalau gaya hidup itu nggak berkelanjutan. Masuklah YONO (You Only Need One.

YONO ini filosofi yang mengajak kita lebih selektif. Fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Menghargai pengalaman bermakna, bukan sekadar barang mahal . Ini bukan tentang hidup melarat, tapi tentang hidup dengan prioritas. “Lebih baik punya satu momen yang benar-benar berkesan dan berarti daripada seratus momen yang hanya sekadar mengisi waktu,” kata seorang influencer yang mulai mempromosikan gaya hidup ini .

Data juga menunjukkan pergeseran ini nyata. Survei McKinsey tahun 2024 menemukan bahwa 60 persen generasi milenial dan Gen Z lebih memilih “pengalaman autentik” daripada barang mewah yang menguras kantong . Ini bukan cuma soal gaya hidup, tapi soal survival di tengah tekanan ekonomi. Inflasi, kenaikan harga kebutuhan, dan ancaman resesi bikin orang lebih bijak mengelola uang .


Sisi Gelap Flexing yang Nggak Bisa Ditutup-tutupi

Tapi kenapa sih flexing mulai ditinggalkan? Jawabannya sederhana: lelah. Psikolog klinis Phoebe Ramadina menjelaskan, perilaku flexing seringkali muncul dari kebutuhan validasi dan rasa tidak aman . Orang yang flexing butuh pengakuan bahwa mereka “berhasil” atau setidaknya tidak tertinggal .

Masalahnya, budaya ini menciptakan lingkaran pembanding yang tidak sehat . Kita jadi merasa nggak cukup, minder, bahkan depresi . Psikolog Yasinta Indrianti bahkan menyebut flexing bisa bikin kita sulit bersyukur dengan apa yang kita miliki . “Yang semestinya mereka bisa mensyukuri dengan kondisi mereka apa adanya, jadi mereka harus ada apanya dulu baru bisa bersyukur,” kata dia .

Dampaknya nggak main-main:

  • Tekanan sosial: Terus membandingkan diri dengan orang lain di media sosial bisa memicu kecemasan, stres, dan depresi .
  • Budaya konsumtif: Flexing mendorong gaya hidup boros, di mana anak muda lebih fokus belanja barang bermerek daripada menabung atau investasi .
  • Perilaku palsu: Banyak yang rela berutang atau memaksakan diri demi citra sosial yang mewah. Bahkan ada yang menyewa barang mewah demi terlihat sukses .
  • Mengaburkan makna kesuksesan: Kesuksesan diukur hanya dari materi, padahal sejatinya bisa datang dari pendidikan, keterampilan, dan kebahagiaan .

Studi Kasus: Tiga Wajah Pergeseran Ini

1. Silent Living: Anti-Flexing yang Bikin Cepat Kaya?

Salah satu wujud dari perlawanan terhadap flexing adalah silent living. Ini gaya hidup yang menekankan kesederhanaan, privasi, dan ketenangan finansial Silent living bukan berarti nggak sukses, tapi sukses tanpa perlu diumbar. Hasilnya? Keuangan lebih sehat karena pengeluaran konsumtif berkurang, dan risiko utang dari cicilan kartu kredit atau paylater menurun drastis .

2. Soft Living: Tetap di Kota, Tapi dengan Batasan

Berbeda dengan slow living yang sering dikaitkan dengan pindah ke desa, soft living adalah versi yang lebih realistis untuk anak kota . Di 2026, soft living berarti tetap kerja, tetap punya target, tapi dengan batasan yang jelas . Pulang tepat waktu bukan lagi tanda malas, tapi tanda waras. Orang mulai berani bilang, “aku cukup segini.” Dan anehnya, justru di situ hidup terasa lebih penuh .

3. Gen Z vs Milenial: Sama-sama Melambat, Tapi Beda Cara

Menariknya, meski sama-sama mengusung prinsip melambat, cara Gen Z dan milenial memaknai slow living cukup berbeda .

Bagi Gen Z, slow living berangkat dari isu kesehatan mental. Mereka tumbuh di era media sosial yang intens, sehingga kelelahan digital dan burnout jadi pemicu utama . Mereka lebih berani menolak pekerjaan yang dinilai merusak kesehatan mental, meski gaji tinggi .

Sementara milenial umumnya mengenal slow living sebagai respons terhadap fase hidup yang menuntut stabilitas. Tekanan karier dan tanggung jawab keluarga bikin mereka mencari hidup yang lebih seimbang . Mereka “berbelok” ke slow living setelah melewati fase kerja keras bertahun-tahun .


3 Kesalahan Fatal Saat Mengadopsi Slow Living

Meski tren ini positif, ada beberapa jebakan yang sering terjadi:

  1. Slow Living Jadi Aesthetic, Bukan Gaya Hidup: Banyak yang cuma mengejar “estetika slow living” di media sosial—video soft lighting, jazz, dan lilin aromaterapi—tanpa benar-benar mengubah pola hidup . Ini cuma escapsim dengan kemasan lebih cantik .
  2. Ambisius Dikambinghitamkan: Pergeseran ini kadang membuat ambisi dianggap negatif. “Try saying ‘I want to be the best at what I do’ online and watch the comment section spiral into accusations of toxic competitiveness,” tulis sebuah analisis . Padahal, bukan ambisi yang salah, tapi cara kita menjalaninya.
  3. Melambat Jadi Malas: “When does rest turn into rust?” . Slow living bukan alasan buat berhenti berkembang. Ini tentang keseimbangan, bukan stagnasi. “Excellence requires effort. Growth is uncomfortable. And real fulfilment often comes from doing hard things well” .

Tips Praktis: Hidup Lebih Pelan Tanpa Kehilangan Arah

Oke, gimana caranya kita bisa mengadopsi slow living tanpa jadi korban “estetika semu”? Nih beberapa tips:

  1. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan: Sebelum membeli sesuatu, tanyakan: “Apakah ini benar-benar dibutuhkan?” Jika jawabannya tidak, tahan diri . Prioritaskan pengeluaran untuk hal yang memberi nilai jangka panjang .
  2. Mulai Digital Minimalism: Atur ulang hubunganmu dengan teknologi. Matikan notifikasi yang nggak perlu, kurangi screen time, dan berani offline sesekali . Ini bukan berarti anti-teknologi, tapi menggunakan teknologi secara lebih sadar dan fungsional .
  3. Cari Komunitas yang Sejalan: Lingkungan itu penting. Cari circle yang menghargai kualitas hidup, bukan sekadar pamer materi. Interaksi sosial yang akrab dan saling mendukung berperan besar menciptakan suasana yang hangat dan nyaman .
  4. Tetap Punya Ambisi, Tapi dengan Batasan: Slow living bukan berarti berhenti berkarya. Ini tentang menemukan keseimbangan. Tetap kejar mimpi, tapi jangan sampai mengorbankan kesehatan mental dan hubungan sosial .

Kesimpulan: Bukan Anti-Sukses, Tapi Anti-Palsu

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Pergeseran dari flexing ke slow living bukanlah tentang menolak kesuksesan. Ini tentang menolak kepalsuan. Ini tentang sadar bahwa kebahagiaan sejati nggak datang dari validasi orang lain di media sosial, tapi dari kedamaian batin dan hubungan yang sehat .

Ini adalah rebranding kesuksesan: dari “terlihat hebat” menjadi “merasa cukup”. Dan yang paling penting, tren ini menunjukkan kalau kita sebagai generasi muda punya kuasa untuk mendefinisikan ulang apa arti hidup yang baik .

Apakah ini berarti kita harus berhenti bermimpi besar? Tentu tidak. Tapi mungkin, saatnya kita bertanya: untuk apa semua ini? Kalau jawabannya cuma “biar dilihat orang lain”, mungkin sudah waktunya melambat. Karena pada akhirnya, hidup yang paling berkesan bukanlah yang paling ramai di feed, tapi yang paling terasa di hati.