Slow Productivity’ yang Toxic: Saat ‘Kerja Santai’ di Pantai Bikin Lo Malah Kerja 80 Jam Seminggu

Slow Productivity' yang Toxic: Saat 'Kerja Santai' di Pantai Bikin Lo Malah Kerja 80 Jam Seminggu
  1.  luar jam itu akan dibalas di hari kerja berikutnya.” Tegas dari awal. Ini bukan tentang tidak komit, tapi tentang komitmen pada keberlanjutan kerja lo.
  2. Hitung Nilai Proyek ke dalam “Upah per Jam” dan Negosiasikan: Sebelum terima proyek, estimasi berapa jam yang dibutuhkan. Bayaran Rp 10 juta untuk proyek 200 jam? Itu cuma Rp 50.000/jam. Katakan, “Berdasajari estimasi waktu, rate-nya jadi di bawah pasar. Bisakah kita naikkan budget atau kurangi scope?” Jangan malu bahas uang. “Slow” bukan berarti “murah”.
  3. Buat “Dokumentasi Kelelahan” yang Privat: Catat di notes pribadi: kapan lo kerja lewat tengah malam, kapan lo batalkan acara pribadi untuk kerja. Setiap bulan, review. Kalau polanya terus-menerus toxic, itu bukan “slow productivity”. Itu eksploitasi. Data pribadi ini jadi modal untuk negosiasi atau memutuskan keluar.

Slow productivity’ yang toxic adalah wol domba berbahaya. Dia menipu kita untuk berpikir kita lebih bebas, padahal kita hanya mengganti kandang dari fisik ke digital, dengan pagar yang lebih samar.

Produktivitas yang benar-benar manusiawi itu punya awal dan akhir. Punya harga yang adil. Dan yang paling penting, memberi kita hak untuk benar-benar melupakan pekerjaan.

Kita harus berhenti menjual jiwa untuk estetika kerja yang instagramable. Cukup.